Sunday, 23 March 2014

Mahsiswa Sulap "Leunca" Jadi Krim Anti Kanker

Mahsiswa Sulap


Jakarta, Aktual.co — Buah leunca atau ranti (sejenis terung) yang biasanya dikonsumsi untuk lalapan itu bisa "disulap" menjadi krim pelindung kulit dari sinar matahari (tabir surya/sunblock) antikanker oleh tim mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala (WM) Surabaya.

"Untuk penelitian produk perawatan kulit itu, kami menggunakan prinsip zero waste product karena ampas hasil pengolahan buah 'leunca'-nya bisa diolah menjadi penganan juga. Selain itu, buah itu memiliki kandungan senyawa yang mampu menangkal efek bebas pemicu sel kanker," ucap mahasiswa WM Farrel Gunawan di kampus setempat, Rabu (19/3).

Didampingi dua rekannya, Reinard Dona Tiono dan Iwan Gunawan, mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Kimia, WM itu menjelaskan bahwa penelitian ini didasari menipisnya lapisan ozon di bumi sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah paparan sinar ultraviolet (UV) dan radiasi sinar UV akan memperbesar risiko terkena kanker kulit.

"Inovasi tabir surya dari leunca itu ada tiga keunggulan, yakni bahan baku tersedia sepanjang tahun, proses ekstraksi yang hemat energi, dan lebih ekonomis serta metode yang kami gunakan menghasilkan bahan aktif murni, steril, cepat, dan alami," tuturnya yang juga didampingi dosen pembimbing Ir. Suryadi Ismadji, M.T., Ph.D.

Tidak hanya itu, inovasi yang berhasil masuk dalam 105 Inovasi Indonesia Prospektif 2013 yang diadakan oleh Business Innovation Center (BIC) itu juga tidak ada sedikit pun bagian yang tersisa untuk menjadi limbah, bahkan ampas buah leunca diolah menjadi kue nastar yang aman untuk dikonsumsi.

"Dalam inovasi itu, kami mengekstraksi secara spesifik kandungan tertentu dari tanaman herbal, lalu kombinasikan dengan teknologi farmasi untuk menjaga stabilitas dan khasiatnya sehingga leunca dapat menjadi bahan baku yang relatif murah dan menghasilkan sediaan obat bernilai tinggi," paparnya.

Ia mengatakan bahwa inovasi itu merupakan pengembangan dari inovasi dalam bentuk salep antikanker dengan menggunakan ekstraksi buah leunca. "Ekstrak leunca memiliki kandungan zat dan senyawa yang mampu menangkal efek radiasi bebas pemicu sel kanker, terutama kanker kulit," ujarnya.

sumber: http://m.aktual.co/urbanitas/125119mahsiswa-sulap-leunca-jadi-krim-anti-kanker

Tabir Surya Buah Leunca dari Surabaya





Sebagai warga Surabaya, kita tentu senang bila menggunakan produk kecantikan lokal yang aman digunakan dan memberi hasil optimal. Produk inilah yang kini sedang dikembangkan tiga mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala (UWKM) Surabaya.

Tiga mahasiswa yang bernama Farrel Gunawan, Reinard Dona Tiono, dan Iwan Gunawan berhasil membuat tabir surya dari buah Leunca. Buah Leunca dikenal masyarakat Surabaya sebagai buah yang dikonsumsi untuk lalapan. Siapa sangka buah ini ternyata mengandung senyawa solasonine, solasodine, solamargine, dan solanine yang bisa menangkal dan menghambat pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali.

Solasodine mempunyai efek menghilangkan sakit (analgetik), penurunan panas, dan antiradang. Solamargine dan solasonine mempunyai efek anti bakteri. Sedangkan solanine sebagai antimitosis. Senyawa-senyawa itu bisa mengatasi gangguan kanker, yakni kanker payudara, leher rahim, lambung dan saluran pernapasan.

''Penelitian ini berdasar fakta menipisnya lapisan ozon di bumi sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah paparan sinar ultraviolet atau UV, yang membuat manusia berisiko terkena kanker kulit,'' kata Reinard Dona Tiono.

Di luar kemampuan alaminya melindungi jaringan dan sel-sel di kulit dari bahaya kanker, tabir surya dari buah Leunca ini punya tiga keunggulan. ''Buah ini tersedia sepanjang tahun, proses ekstraksi buah Leunca hemat energi dan lebih ekonomis, dan keunggulan yang ketiga, dengan metode yang kami gunakan menghasilkan bahan aktif murni, steril, cepat serta alami, bahkan ampas buah Leunca yang kami gunakan bisa diolah jadi kue nastar,'' kata Farrel Gunawan.

Inovasi ini merupakan pengembangan dari Salep anti–Kanker dengan menggunakan ekstraksi buah Leunca. Ekstrak Leunca memiliki kandungan zat dan senyawa yang mampu menangkal efek radiasi bebas pemicu sel kanker terutama kanker kulit. Di bawah bimbingan Ir. Suryadi Ismadji, M.T., Ph.D, inovasi ini berhasil masuk dalam 105 Inovasi Indonesia Prospektif 2013 yang diadakan oleh Business Innovation Center (BIC).

Sumber: http://www.sheradiofm.com/2014/news/2014/1-3779-Tabir-Surya-Buah-Leunca-dari-Surabaya

Universitas Widya Mandala Lakukan Riset “Super Kapasitor” Gantikan BBM

dahlan iskan


Jakarta, EnergiToday -- Menteri BUMN Dahlan Iskan mendukung penelitian "super kapasitor" buatan Indonesia ala peneliti Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Dukungan itu diberikan Dahlan Iskan dengan mengunjungi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, guna menemui ahli Super Kapasitor di universitas itu. "Beberapa tahun sebelumnya, saya bertemu seorang ilmuwan luar negeri yang membahas tentang potensi energi alternatif pengganti BBM," kata Dahlan, seperti dilaporkan bisnis.com.

Menurut Dahlan Iskan yang merupakan teman lama Rektor WM Kuncoro Foe itu, tingginya harga BBM dan ketergantungan masyarakat Indonesia akan bahan bakar ini memerlukan bahan bakar alternatif yakni Super Kapasitor. Namun, semuanya tidak mempunyai.

Suryadi Ismadji adalah Dekan Fakultas Teknik WM yang pernah mendapat Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa dari empat Kementerian pada tahun 2012. Dia menjelaskan penelitian yang dilakukannya adalah super kapasitor dengan elektroda dari bahan baku karbon aktif yang diambil dari kulit ketela pohon. "Asalkan diproduksi massal, maka super kapasitor akan menjadi alternatif energi yang mudah dan murah. Penyimpanan energi lebih cepat dan tahan lebih lama," katanya. (id/bc)

sumber: http://energitoday.com/2014/02/15/universitas-widya-mandala-lakukan-riset-super-kapasitor-gantikan-bbm/

Wednesday, 19 March 2014

Sisa Ekstrak Untuk Kue Nastar

SURYA Online, SURABAYA - Buah leunca biasanya dimanfaatkan untuk lalapan, namun buah yang banyak terdapat di daerah Jawa Barat ini ternyata punya khasita bisa diolah menjadi krim tabir Surya yang bisa menangkal efek bebas pemicu sel kanker.
Krim tabir surya dari buah leunca ini diciptakan mahasiswa Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Farrel Gunawan, Reinard Dona Tiono dan Iwan Gunawan.
Ide itu muncul setelah mereka mengetahui dalam buah berwarna hijau itu terdapat kandungan senyawa gliko alkaloid yang berkhasiat untuk mencegah kanker.
"Sayang sekali kalau buah ini hanya jadi lalapan. Dan ini cocok sekali dengan semangat penelitian kami yang ingin mengangkap kekayaan Indonesia," kata Farrel dihubungi, Selasa (18/3/2014).
Tabir surya dipilih karena mereka melihat kondisi ozon yang kini semakin menipis sehingga berdampak pada meningkatkan jumlah paparan sinar ultraviolet (UV) yang radiasinya akan memperbesar risiko terkena kanker kulit.
Dengan bimbingan dosen Suryadi Ismadji mereka mulai membuat krim tabir surya dari buah leunca. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mengeringkan buah leunca untuk kemudian dihancurkan.
Buah leunca yang sudah hancur ini kemudian dimasukkan dalam tabung kimia untuk kemudian dialiri karbondioksida bertekanan tinggi. Hasil proses ini berupa cairan ekstrak buah leunca yang siap untuk dibuat tabir surya dengan dicampur bahan-bahan lainnya.
Hasil tes secara kimia, tabir surya buah leunca ini terbukti mampu mencegah kanker. "Ke depan kami ingin ada tes pra klinis hingga uji klinis untuk memastikannya," katanya.
Sementara itu, sisa buah leunca yang sudah diambil ektraknya ternyata juga bisa digunakan untuk membuat makanan lain, seperti isi kue nastar. Ini dimungkinkan karena rasa pahit yang ada di buah leunca sudah hilang karena sudah diekstrak dengan karbondioksida.
"Jadi tidak ada limbahnya karena semua bisa dimanfaatkan," terang mahasiswa kelahiran 27 Februari 1993.
Farrel optimistis produknya bisa dikembangkan menjadi sebuah industri yang menjanjikan. Apalagi selama ini, beberapa industri kecantikan yang memproduksi krim tabir surya belum melirik buah yang berbentuk bulat kecil ini.
Selain itu, buah leunca tersedia sepanjang tahun dan proses ekstraksi juga hemat energi dan lebih ekonomis serta metode yang digunakan menghasilkan bahan aktif murni, steril, cepat dan alami.
Inovasi yang diciptakan hanya dalam waktu tiga bulan ini berhasil masuk dalam 105 Inovasi Indonesia Prospektif 2013 yang diadakan oleh Business Innovation Center (BIC).
Ketiga mahasiswa ini berinovasi dengan perspektif bahwa teknologi canggih mampu mengekstraksi secara spesifik kandungan tertentu dari tanaman herbal. Dikombinasikan dengan teknologi farmasi untuk menjaga stabilitas dan khasiatnya.
"Dengan proses pengolahan ekstrak dan sisanya buah leunca dapat menjadi bahan baku yang relatif murah dan menghasilkan obat bernilai tinggi," tukasnya.

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2014/03/18/sisa-ekstrak-untuk-kue-nastar

Tabir Surya Buah Leunca Tangkal Efek Bebas Sel Kanker

suarasurabaya.net - Adalah Farrel Gunawan, Reinard Dona Tiono, dan Iwan Gunawan, ketiganya mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya yang melakukan inovasi membuat tabir surya dari buah Leunca. 

Buah Leunca dikenal masyarakat sebagai buah yang biasa dikonsumsi layaknya untuk lalapan, ternyata berdasarkan penelitian memiliki kandungan senyawa yang mampu menangkal efek bebas pemicu sel kanker.

“Penelitian ini didasari fakta menipisnya lapisan ozon di bumi sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah paparan sinar ultraviolet atau UV, yang membuat manusia berisiko terkena kanker kulit,” ujar Reinard Dona Tiono.

Farrel Gunawan anggota tim lainnya menegaskan bahwa tabir surya berbahan buah Leunca hasil penelitiannya memiliki sekurangnya 3 keunggulan. Bahan baku buah Leunca tersedia sepanjang tahun.

“Yang kedua, proses ekstraksi buah Leunca hemat energi dan lebih ekonomis, dan keunggulan yang ketiga, dengan metode yang kami gunakan menghasilkan bahan aktif murni, steril, cepat serta alami,” kata Farrel Gunawan.

Ditambahkan Iwan Gunawan, bahwa dalam pengolahan buah Leunca menjadi tabir surya menggunakan prinsip zero waste product. “Bahkan ampas buah Leunca yang kami gunakan bisa diolah jadi kue nastar,” tutur Iwan.

Inovasi yang dilakukan para mahasiswa ini berperspektif bahwa teknologi canggih mampu mengekstraksi secara spesifik kandungan tertentu dari tanaman herbal. 

Dikombinasikan dengan teknologi farmasi untuk menjaga stabilitas dan khasiatnya, maka buah Leunca dapat menjadi bahan baku yang relatif murah dan menghasilkan sediaan obat bernilai tinggi.

Inovasi ini merupakan pengembangan dari Salep anti–Kanker dengan menggunakan ekstraksi buah Leunca. Ekstrak Leunca memiliki kandungan zat dan senyawa yang mampu menangkal efek radiasi bebas pemicu sel kanker terutama kanker kulit.

Di bawah bimbingan Ir. Suryadi Ismadji, M.T., Ph.D, inovasi ini berhasil masuk dalam 105 Inovasi Indonesia Prospektif 2013 yang diadakan oleh Business Innovation Center (BIC).(tok/ipg)

Sumber: http://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2014/131791-Tabir-Surya-Buah-Leunca-Tangkal-Efek-Bebas-Sel-Kanker

Tabir Surya Anti Kanker dari Lalapan Sunda

Tabir Surya Anti Kanker dari Lalapan Sunda

Surabaya, KabarGress.Com – Farrel Gunawan, Reinard Dona Tiono, dan Iwan Gunawan mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya melakukan inovasi dengan membuat tabir surya dari buah leunca. Buah yang biasa dikonsumsi sebagai lalapan ini memiliki kandungan senyawa yang mampu menangkal efek bebas pemicu sel kanker.
“Penelitian ini didasari menipisnya lapisan ozon di bumi sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah paparan sinar ultraviolet,” ujar Reinard menjelaskan mengenai latar belakang pembuatan tabir surya ini. Iwan menambahkan, bahwa radiasi sinar UV akan memperbesar risiko terkena kanker kulit.
Farrel mengungkapkan beberapa keunggulan inovasi tabir surya dari leunca, “Ada 3 keunggulan yang kami catat. Di antaranya, bahan baku ini tersedia sepanjang tahun, proses ekstraksi yang hemat energi dan lebih ekonomis, dan metode yang kami gunakan menghasilkan bahan aktif murni, steril, cepat dan alami”. Dibawah bimbingan Ir. Suryadi Ismadji, M.T., Ph.D, inovasi ini berhasil masuk dalam 105 Inovasi Indonesia Prospektif 2013 yang diadakan oleh Business Innovation Center (BIC).
“Kami menggunakan prinsip zero waste product dalam pengolahan bahan baku untuk tabir surya ini, jadi tidak ada sedikitpun bagian yang tersisa untuk menjadi limbah. Bahkan ampas buah leunca yang kami gunakan dapat diolah menjadi kue nastar yang aman untuk dikonsumsi,” tutur Iwan mengungkap kelebihan lain dari penelitian mereka.
Ketiga mahasiswa ini berinovasi dengan perspektif bahwa teknologi canggih mampu mengekstraksi secara spesifik kandungan tertentu dari tanaman herbal. Dikombinasikan dengan teknologi farmasi untuk menjaga stabilitas dan khasiatnya, maka leunca dapat menjadi bahan baku yang relatif murah dan menghasilkan sediaan obat bernilai tinggi.
Inovasi ini merupakan pengembangan salep anti–kanker dengan menggunakan ekstraksi buah leunca. Ekstrak leunca memiliki kandungan zat dan senyawa yang mampu menangkal efek radiasi bebas pemicu sel kanker terutama kanker kulit. (ro)
Sumber: http://kabargress.com/2014/03/18/tabir-surya-anti-kanker-dari-lalapan-sunda/

Wednesday, 5 March 2014

Ini Terobosan Baru Putra Bangsa yang Didukung Dahlan

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Menteri BUMN Dahlan Iskan mendukung penelitian "super kapasitor" buatan Indonesia ala peneliti Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Dukungan itu mendorong Dahlan Iskan untuk melakukan kunjungan ke Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Jumat, guna menemui ahli Super Kapasitor di universitas itu.

"Beberapa tahun sebelumnya, saya bertemu seorang ilmuwan luar negeri yang membahas tentang potensi energi alternatif pengganti BBM," kata Dahlan.
Menurut Dahlan Iskan yang merupakan teman lama Rektor WM Kuncoro Foe itu, tingginya harga BBM dan ketergantungan masyarakat Indonesia akan bahan bakar ini memerlukan bahan bakar alternatif yakni Super Kapasitor.

"Sebagai orang awam, saya kira itu akan dihasilkan oleh peneliti dari Teknik Elektro. Saya sudah bertanya ke mana-mana, ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, beberapa universitas di Surabaya, maupun di kota lainnya," katanya.

Namun, semuanya tidak mempunyai. "Setelah agak putus asa, saya nge-twitt dan malah mendapat banyak masukan. Salah satunya saya mendengar tentang Pak Suryadi yang sering meneliti di bidang electrochemical (elektrokimia)," katanya.

Suryadi Ismadji adalah Dekan Fakultas Teknik WM yang pernah mendapat Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa dari empat Kementerian pada tahun 2012.
"Pada dasarnya, penelitian kami memang gado-gado, dari segi teknik kimia ada banyak yang bisa diteliti mulai dari biofuel, sampai dengan super kapasitor," kata Suryadi.

Ia menjelaskan penelitian yang dilakukannya adalah super kapasitor dengan elektroda dari bahan baku karbon aktif yang diambil dari kulit ketela pohon.
"Asalkan diproduksi massal, maka super kapasitor akan menjadi alternatif energi yang mudah dan murah. Penyimpanan energi lebih cepat dan tahan lebih lama," katanya.

Menurut dia, karbon aktif mampu menyimpan lebih banyak energi dengan ukuran yang lebih kecil, cocok untuk perkembangan perangkat elektronik berukuran kecil dan bahkan sangat kecil (teknologi nano).

"Ini (inovasi) merupakan terobosan baru bahan penyusun elektroda kapasitor yang berasal dari bahan yang selama ini hanya menjadi sampah, yakni kulit ketela pohon," kata peneliti yang tahun 2013 menghasilkan 20 jurnal penelitian di bidang Teknik Kimia itu.

Ia menilai kandungan karbon yang tinggi memungkinkan kulit ketela pohon sebagai bahan dasar pembuatan EDLC (Electric Double Layer Capacitor), sebuah kapasitor super yang berukuran kecil, namun dengan kapasitas penyimpanan besar.

"Saat penelitian ini didaftarkan ke BIC, sudah kami sampaikan bahwa kami butuh partner industri untuk mengembangkan ini. Super kapasitor sangat bergantung pada elektroda yang digunakan, makin baik kualitasnya akan makin kuat daya tahannya," katanya.

Singkong adalah produk lokal Indonesia yang tidak terpikir oleh banyak orang kalau limbahnya bisa berguna. Kulit singkong juga bisa dikembangkan untuk menjadi graphene yang kemampuannya menahan energi bisa 10 kali lipat lebih kuat dari elektroda karbon aktif.

"Graphene adalah selapis kristal-kristal karbon 2-dimensi yang tersusun teratur seperti sarang lebah dan saat ini diteliti secara besar-besaran di Amerika sebagai alternatif media penyimpanan energi," katanya.

Setelah mendengar garis besar penjelasan dari Suryadi, Dahlan menyampaikan niatnya untuk mendukung sepenuhnya penelitian super kapasitor tersebut.

"Tinggal buat roadmap-nya, beserta prediksi kira-kira dalam berapa tahun penelitian ini bisa menghasilkan super kapasitor yang bagus. Lebih cepat lebih baik, karena kita ini negeri yang dijajah BBM, kayak demo dan lain-lain. Ini adalah harapan bangsa kita," tutur Dahlan.
http://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains/14/02/15/n0zwqq-ini-terobosan-baru-putra-bangsa-yang-didukung-dahlan

WM-NTUST Buka S-1 Internasional

WM-NTUST Buka S-1 Internasional

Surabaya (Antara Jatim) - Universitas Katolik Widya Mandala (WM) Surabaya dan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) melakukan kerja sama untuk membuka program internasional khusus S-1 dalam bidang Teknik Kimia mulai tahun ajaran 2014/2015.

"Kalau double degree (studi dengan gelar ganda) untuk S2 dan S3 itu, NTUST sudah bekerja sama dengan banyak universitas dari banyak negara, tapi kalau double degree untuk S-1 masih baru pertama kali dengan WM," kata Rektor WM Kuncoro Foe G.Dipls.Sc PhD di Surabaya, Senin.

Setelah melakukan penandatanganan naskah kerja sama tentang program itu dengan Wakil Rektor NTUST Prof Duu Jong Lee PhD di Rektorat WM, ia menjelaskan kerja sama itu juga bukan hanya gelar ganda, karena mahasiswa juga akan mendapatkan sertifikat manajemen dan mandarin.

"Kerja sama itu pun kami awali dari program studi Teknik Kimia, karena program studi itu sudah lama bekerja sama dengan NTUST sejak tahun 2005, lalu NTUST menawarkan program internasional untuk S-1 itu, karena pihak NTUST merasa bangga dengan kerja sama selama ini," katanya.

Namun, katanya, kerja sama dengan program studi lain tidak tertutup kemungkinannya bila kerja sama dengan prodi Teknik Kimia itu berhasil. "Kerja sama ini serius, karena itu kami lakukan secara bertahap, bahkan kalau tidak ada kemajuan pun akan langsung dihentikan," katanya.

Dalam program S-1 internasional yang memosisikan S-1 Teknik Kimia WM setara dengan S-1 Teknik Kimia NTUST itu, katanya, peserta akan menempuh kuliah selama dua tahun di WM dan dua tahun di NTUST.

"Yang jelas, kami sudah lama bermitra dengan NTUST. Ibarat mencari jodoh, kami sudah melalui proses kenalan atau pacaran, maka sekarang memasuki tahapan yang lebih serius. Bagi kami, NTUST merupakan universitas terbaik di Taiwan," katanya.

Bahkan, NTUST masuk dalam 10 universitas terbaik Asia dan telah meraih lebih dari 70 penghargaan internasional. "Selain sudah lama kenal dan NTUST merupakan universitas terbaik, kami juga melihat dunia melihat Asia sebagai pusat pertumbuhan dunia ke depan," katanya.

Senada dengan itu, Wakil Rektor NTUST Prof Duu Jong Lee PhD mengatakan kompetisi dan daya saing akan mewarnai perkembangan global, karena itu kalangan universitas perlu menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi.

"Kami bekerja sama dengan WM juga bukan asal pilih, karena kami sudah saling mengenal sejak tahun 2005 dan banyak dosen yang menilai performance mahasiswa WM selama ini sangat bagus. Untuk tahun pertama, program ini akan menerima 60 mahasiswa," katanya.

Dalam kesempatan itu, Dekan Fakultas Teknik WM, Ir Suryadi Ismadji PhD, menegaskan bahwa program internasional S-1 untuk Teknik Kimia itu tidak hanya melibatkan 15 dosen NTUST, melainkan juga seorang dosen China, dosen Australia (3), dosen Jepang (1), dan dosen Korea (1).

"Untuk tahap pertama yang dibuka tahun ajaran ini, kami membuka peluang studi pada Teknik Kimia secara reguler ada 40 mahasiswa dan secara internasional ada 60 mahasiswa. Kami yakin 60 mahasiswa program internasional itu akan tercapai," katanya.

Tentang biaya, ia menyebut biaya untuk program internasional sekitar Rp40 juta dalam setahun atau Rp20 juta per semester, sedangkan program reguler hanya Rp10 juta per semester. "Tapi, kalau ada mahasiswa yang berprestasi akan menerima beasiswa S2 selama setahun saja," katanya.

Selain itu, mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk magang di perusahaan Korea secara gratis. "Selama ini, kami sendiri sudah memiliki 47 mahasiswa S2 dan S3 yang merupakan alumni NTUST sejak tahun 2005 hingga kini," katanya. (*)

Tuesday, 25 February 2014

WM Terapkan Double Degree Bagi Lulusan Teknik Kimia (sumber: RRI)

KBRN, Surabaya : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (WM) akan menerapkan program double degree untuk meningkatkan kualitas lulusan para sarjana di Indonesia.
Program ini dinilai menguntungkan, karena mahasiswa akan belajar di dua negara, yakni Indonesia, dan negara tujuan Perguruan Tinggi (PT) yang telah bekerjasama. Bahkan, mahasiswa akan mendapatkan gelar double atau dua, yakni gelar dari PT di Indonesia, serta PT dari luar negeri.

Mulai tahun 2014 ini, WM akan menerapkan program ini, dan telah melakukan kerjasama dengan National Taiwan University of Scince and Technology (NTUST). NTUST tercatat sebagai 10 Universitas terbaik di Asia, dan telah meraih lebih dari 70 penghargaan dikancah internasional.


Rektor WM, Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D menjelaskan, program ini terbuka bagi siapapun yang akan menempuh study strata satu (S1) maupun strata dua (S2). Namun untuk program ini tambah Kuncoro, proses seleksi dilakukan berbeda dengan seleksi penerimaan mahasiswa reguler.

"Jadi kami harus menseleksi bagi mahasiswa, jadi mahasiswa ini beda dari masuk program reguler. Jadi ini khusus direkrut untuk program ini, artinya Bahasa Inggrisnya harus bagus, kemudian tentunya dia harus tahu, bahwa tahun ketiga keempat, kalau memang ingin melanjutkan ke Master di tahun kelima. Itu termasuk biayanya harus diperhitungkan jadi proses seleksinya terpisah," kata Kuncoro Foe, Senin (24/2/2014).

Untuk kerjasama yang dilakukan antara WM dan NTUST ini, untuk sementara dilaksanakan bagi jurusan Teknik Kimia. Proses belajarnya antara lain, selama dua tahun menempuh pendidikan di WM, dan dua tahun terakhir menempu study di NTUST. Sedangkan bagi yang ingin melanjutkan ke strata dua (S2), mahasiswa hanya menambah satu tahun di NTUST.

Kerjasama ini sejatinya telah dilakukan WM sejak 2005 lalu, dan telah berhasil mengirimkan 47 mahasiswanya untuk belajar di NTUST. melihat keberhasilan para delegasi inilah, akhirnya WM meresmikan kerjasama ini dengan NTUST. Mengawali kerjasama ini, WM secara resmi melakukan penandatanganan MoU. WM dilakukan oleh Rektor Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D, sedangkan NTUST diwakili Prof. Duu Juong Lee. (Anik/WDA)

http://rri.co.id/index.php/berita/91262/WM-Terapkan-Double-Degree-Bagi-Lulusan-Teknik%E2%80%A6-#.Uw6FF-OSx1M

Program Double Gelar Semakin Diminati, Why Not? (sumber: kabarwarta.com)

SURABAYA, KABARWARTA - Kualitas pendidikan dan pengajaran di Indonesia dapat ditingkatkan hingga setara dengan universitas-universitas kenamaan di luar negeri. Ada berbagai cara untuk mewujudkannya, dan salah satu alternatif yang menguntungkan bagi banyak pihak adalah program double degree.

Program double degree kini semakin banyak dan diminati masyarakat. Program ini memberikan beberapa keuntungan yang tidak didapatkan pada program lain. Salah satu keuntungan yang paling utama adalah dengan mengikuti program ini, mahasiswa bisa sekaligus mendapatkan dua gelar dengan sekali waktu studi. Gelar pertama diberikan universitas dari dalam negeri tempat dia berasal dan gelar kedua dari universitas luar negeri yang jadi tujuan mereka. Dengan dua gelar ini, peluang untuk memenangkan kompetisi di era global semakin besar. 

Umumnya, program ini berlangsung bagi mahasiswa yang akan mengambil program Magister (S-2) dan ada juga yang berlaku untuk program Doktoral (S-3). Sebagai a-life improving university, WM ingin mempersiapkan lulusannya dengan lebih baik, sehingga dalam kesempatan ini membuka kesempatan bagi jenjang S-1 sekaligus S-2. Bekerja sama dengan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) yang termasuk dalam 10 Universitas terbaik di Asia dan telah meraih lebih dari 70 penghargaan di kancah internasional, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (WM) akan meresmikan kerja sama dalam bentuk penandatanganan MoU. 

“Garis besar MoU ini adalah program internasional gelar ganda antara Jurusan Teknik Kimia WM dan Teknik Kimia NTUST, 2 tahun di WM dan 2 tahun di NTUST dengan gelar dari kedua belah pihak. Selain itu ada kemungkinan juga untuk dibuat menjadi 2 tahun di WM dan 3 tahun di NTUST langsung lulus jenjang S-1 dan S-2. Kekhususan dari program ini adalah diajarkan dalam bahasa Inggris dan bahasa mandarin, di samping itu mereka juga mendapat pengajaran dalam hal manajemen sehingga lulusan juga mendapat sertifikat manajemen dari NTUST, jadi bukan hanya Teknik Kimia saja yang dikuasai,” ujar Ir. Suryadi Ismadji, Ph.D selaku dekan Fakultas Teknik WM.

Kekhususan lain adalah tenaga pengajar yang juga didatangkan dari NTUST maupun WM yang memenuhi standar internasional, mahasiswa gelar ganda ini juga akan diajar oleh beberapa adjunct professor dari Wollongong University of New South Wales, Queenland University of Autralia dan beberapa universitas lainnya.
Diharapkan program kerja sama ini dapat membawa hal yang positif bagi mahasiswa dan dunia pendidikan di Indonesia, dan bukan hanya sekedar mengikuti  tren atau gengsi saja. Tidak mudah bagi suatu perguruan tinggi untuk memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjalin kerja sama tersebut. WM dan NTUST secara cermat akan menyertainya dengan kepemilikian infrastruktur pendidikan dan penelitian yang baik oleh kedua belah pihak. (Nda/Foto: Int)
http://kabarwarta.com/berita-2833-program-double-gelar-semakin-diminati-why-not.html

Gandeng NTUST, Tawarkan Double Degree (sumber suarasurabaya.net)


suarasurabaya.net - Kualitas pendidikan dan pengajaran di Indonesia dapat ditingkatkan hingga setara dengan universitas-universitas kenamaan di luar negeri, dengan berbagai cara dan yang dianggap memberikan keuntungan banyak pihak adalah program double degree.

Program double degree satu diantaranya memberikan keuntungan bagi mahasiswa pesertanya karena mahasiswa mendapatkan dua gelar secara bersamaan melalui sekali masa studi yang ditempuhnya.

Gelar pertama diberikan universitas dari dalam negeri tempat mahasiswa berasal dan gelar kedua dari universitas luar negeri yang jadi tujuan studi mereka. Dengan dua gelar ini, diyakini peluang untuk memenangkan kompetisi di era global semakin besar.

Biasanya, program double degree berlangsung bagi mahasiswa yang akan mengambil program Magister (S-2) dan ada juga yang berlaku untuk program Doktoral (S-3). Dan sebagai kampus a life improving, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ingin mempersiapkan alumninya lebih siap menghadapi persaingan global.

Menggandeng National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, membuka kesempatan mahasiswa baru memilih program double degree.

"Calon peserta memiliki kesempatan menempuh jenjang S1 sekaligus S2. Dan NTUST adalah satu diantara 10 universitas terbaik di Asia yang telah meraih lebih dari 70 penghargaan internasional. Kami akan selenggarakan MoU," terang Ir. Suryadi Ismadji, Ph.D.

Garis besar MoU tersebut, lanjut Ir. Suryadi, adalah program internasional gelar ganda antara Jurusan Teknik Kimia Widya Mandala dan Teknik Kimia NTUST, dengan lama pendidikan 2 tahun di WM dan 2 tahun di NTUST dengan masing-masing gelar dari kedua belah pihak. 

Selain itu ada kemungkinan juga dibuat menjadi 2 tahun di WM dan 3 tahun di NTUST langsung lulus jenjang S-1 dan S-2. Kekhususan dari program ini adalah diajarkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Mandarin.

"Tidak hanya itu, mahasiswa peserta program itu juga mendapat pengajaran dalam hal manajemen sehingga lulusan juga mendapat sertifikat manajemen dari NTUST, jadi bukan hanya Teknik Kimia saja yang dikuasai," tambah Ir. Suryadi.

Kekhususan lain, lanjut Suryadi, adalah tenaga pengajar yang juga didatangkan dari NTUST maupun Widya Mandala yang memenuhi standar internasional, mahasiswa gelar ganda ini juga akan diajar oleh beberapa adjunct professordari Wollongong University of New South Wales, Queenland University of Autralia dan beberapa universitas lainnya. 

Diharapkan program kerja sama ini dapat membawa hal yang positif bagi mahasiswa dan dunia pendidikan di Indonesia, dan bukan hanya sekedar mengikuti tren atau gengsi saja. 

"Tidak mudah bagi perguruan tinggi untuk memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan dalam rangka menjalin kerja sama tersebut. WM dan NTUST secara cermat akan menyertainya dengan kepemilikian infrastruktur pendidikan dan penelitian yang baik oleh kedua belah pihak," pungkas Suryadi pada suarasurabaya.net, Sabtu (22/2/2014)(tok)


http://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2014/130798-Gandeng-NTUST,-Tawarkan-Double-Degree

Sunday, 23 February 2014

Program Internasional Teknik Kimia Unika Widya Mandala Surabaya - NTUST : Chemical Business Engineering

Kerjasama internasional antara Teknik Kimia Unika Widya Mandala Surabaya dan NTUST telah disepakati untuk dilaksanakan mulai tahun ajaran 2014/2015. 

Program dual degree ini (2 tahun di WM dan 2 tahun di NTUST) akan dilaksanakan sepenuhnya dalam bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, dan mahasiswa akan diajarkan juga bahasa mandarin. Perkuliahan tahun pertama dan kedua akan dilaksanakan di Unika Widya Mandala Surabaya dan tahun ke tiga dan ke empat akan dilaksanakan di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST, Taiwan). 

Program ini betul-betul akan dilaksanakan secara internasional dimana tenaga pengajar akan berasal dari Unika Widya Mandala Surabaya (yang memenuhi kualifikasi), NTUST, dan beberapa dari Universitas lainnya seperti dari Wollongong (Australia), The University of Queensland (Australia) dan juga dari beberapa negara lainnya.

Disamping mempelajari ilmu Teknik Kimia pada program dual degree ini akan diberikan ilmu business dan manajemen (20 kredit) yang menjadi kekuatan dari NTUST sehingga mahasiswa yang lulus program ini juga memperoleh kemampuan dalam bidang manajemen dan business, sehingga mahasiswa yang lulus program ini juga memperoleh sertifikat diploma dalam bidang manajemen yang akan dikeluarkan oleh pihak NTUST.

Pihak NTUST juga menawarkan fast track untuk master (full scholarship) bagi mahasiswa yang mengikuti program ini dengan nilai yang sangat bagus. Dengan menanbah 1 tahun di NTUST mahasiswa akan mendapatkan gelar master.

Saturday, 15 February 2014

Dahlan Dorong Penelitian Super Kapasitor (sumber: Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Surabaya: Menteri BUMN Dahlan Iskan mendukung penelitian super kapasitor buatan Indonesia ala peneliti Universitas Widya Mandala Surabaya.

"Beberapa tahun sebelumnya, saya bertemu seorang ilmuwan luar negeri yang membahas tentang potensi energi alternatif pengganti BBM," kata Dahlan.

Menurut Dahlan Iskan yang merupakan teman lama Rektor WM Kuncoro Foe itu, tingginya harga BBM dan ketergantungan masyarakat  akan bahan bakar memerlukan bahan bakar alternatif yakni super kapasitor.

"Sebagai orang awam, saya kira itu akan dihasilkan oleh peneliti dari teknik elektro. Saya sudah bertanya ke mana-mana, ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, beberapa universitas di Surabaya, maupun di kota lainnya," katanya.

Namun, semuanya tidak mempunyai. "Setelah agak putus asa, saya nge-twitt dan malah mendapat banyak masukan. Salah satunya saya mendengar tentang Pak Suryadi yang sering meneliti di bidang electrochemical (elektrokimia)," katanya.

Suryadi Ismadji adalah Dekan Fakultas Teknik WM yang pernah mendapat Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa dari empat Kementerian pada tahun 2012.

"Pada dasarnya, penelitian kami memang gado-gado, dari segi teknik kimia ada banyak yang bisa diteliti mulai dari biofuel, sampai dengan super kapasitor," kata Suryadi.


Ia menjelaskan penelitian yang dilakukannya adalah super kapasitor dengan elektroda dari bahan baku karbon aktif yang diambil dari kulit ketela pohon.

"Asalkan diproduksi massal, maka super kapasitor akan menjadi alternatif energi yang mudah dan murah. Penyimpanan energi lebih cepat dan tahan lebih lama," katanya.

Menurut dia, karbon aktif mampu menyimpan lebih banyak energi dengan ukuran yang lebih kecil, cocok untuk perkembangan perangkat elektronik berukuran kecil dan bahkan sangat kecil (teknologi nano).

"Ini (inovasi) merupakan terobosan baru bahan penyusun elektroda kapasitor yang berasal dari bahan yang selama ini hanya menjadi sampah, yakni kulit ketela pohon," kata peneliti yang tahun 2013 menghasilkan 20 jurnal penelitian di bidang teknik kimia itu.

Ia menilai kandungan karbon yang tinggi memungkinkan kulit ketela pohon sebagai bahan dasar pembuatan EDLC (Electric Double Layer Capacitor), sebuah kapasitor super yang berukuran kecil, namun dengan kapasitas penyimpanan besar.

"Saat penelitian ini didaftarkan ke BIC, sudah kami sampaikan bahwa kami butuh partner industri untuk mengembangkan ini. Super kapasitor sangat bergantung pada elektroda yang digunakan, makin baik kualitasnya akan makin kuat daya tahannya," katanya.

Singkong adalah produk lokal Indonesia yang tidak terpikir oleh banyak orang kalau limbahnya bisa berguna. Kulit singkong juga bisa dikembangkan untuk menjadi graphene yang kemampuannya menahan energi bisa 10 kali lipat lebih kuat dari elektroda karbon aktif.

"Graphene adalah selapis kristal-kristal karbon 2-dimensi yang tersusun teratur seperti sarang lebah dan saat ini diteliti secara besar-besaran di Amerika sebagai alternatif media penyimpanan energi," katanya.

Setelah mendengar garis besar penjelasan dari Suryadi, Dahlan menyampaikan niatnya untuk mendukung sepenuhnya penelitian super kapasitor tersebut.

"Tinggal buat roadmap-nya, beserta prediksi kira-kira dalam berapa tahun penelitian ini bisa menghasilkan super kapasitor yang bagus. Lebih cepat lebih baik, karena kita ini negeri yang dijajah BBM, kayak demo dan lain-lain. Ini adalah harapan bangsa kita," tutur Dahlan.  (antara)
Editor: Asnawi Khaddaf

http://www.metrotvnews.com/tekno/read/2014/02/15/13/216228/Dahlan-Dorong-Penelitian-Super-Kapasito

Friday, 14 February 2014

Pengembangan Superkapasitor

Pada tanggal 14 February 2014, Menteri BUMN bapak Dahlan Iskan mengunjungi Unika Widya Mandala Surabaya untuk membicarakan pengembangan superkapasitor sebagai alternatif pengganti energi masa depan. 


Pada kesempatan tersebut hadir Rektor Unika Widya Mandala Surabaya Kuncoro Foe PhD beserta Wakil rektor 1 Harto Pramono PhD dan wakil Rektor 2 Dr Erna Susilowati dan tim dari Teknik Kimia yaitu Suryadi Ismadji PhD, Wenny Irawaty PhD, Felycia Edi Soetaredjo PhD, Aning Ayucitra MEngSc. 


Tiga mahasiswi Jurusan Teknik Kimia Unika Widya Mandala Surabaya Internship di NTUST Taiwan

Tiga orang mahasiswi Jurusan Teknik Kimia Unika Widya Mandala Surabaya yaitu Jindrayani Nyoo Putro, Yovita Djojorahardjo dan Cynthia Wijaya mendapatkan kesempatan internship di NTUST (National Taiwan University of Science and Technology) Taiwan selama 6 bulan (February sampai Juli 2014). Mereka selama di NTUST akan berada dalam bimbingan Professor Yi-Hsu Ju, Professor S.Y. Lin, dan Professor M.J. Wang

Sunday, 9 February 2014

Sumbangan alumni

Dear All, sumbangan alumni sampai dengan tanggal 9 Februari adalah Rp. 16,503,794.98. Partisipasui alumni masih diharapkan.

Thank you atas partisipasinya.

Kecap dari kacang hijau, siasati harga kedelai melambung tinggi


Sunday, 2 February 2014

POTENTIA Edisi 1 (Widya Mandala)



Silahkan mengunduh majalah digital milik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya edisi 1 yang diproduksi oleh Kantor Humas melalui link yang tersedia

Jerami Untuk Menyerap Logam Berat Limbah Industri (sumber website Unika Widya Mandala Surabaya)



Tingginya kandungan logam berat yang terdapat dalam limbah industri di Indonesia menyebabkan beberapa dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat. Limbah industri yang terserap oleh tanah dan yang mencemari air akan menyebabkan terganggunya kesehatan apabila manusia secara terus menerus mengkonsumsi hasil alam yang terkontaminasi limbah. Mulai dari luka luar seperti kulit melepuh hingga keterbelakangan mental bisa diakibatkan oleh polusi limbah industri yang tidak diperhatikan teknik pengolahannya.
Keprihatinan akan hal ini mendorong Felycia Edi Soetaredjo, PhD. untuk melakukan penelitian mendalam terhadap pembentukan model biosorbent (penyerap dari biomassa) terhadap kandungan logam berat yang terdapat di dalam limbah industri. Indonesia sebagai negara agraris menghasilkan banyak limbah pertanian yang bisa dimanfaatkan sebagai biomassa, salah satunya adalah jerami yang dihasilkan dari limbah tanaman padi. Menggunakan biosorbent dari jerami adalah suatu alternatif berbiaya ringan dalam teknik pengolahan limbah cair industri.
“Saya selalu tertarik melakukan penelitian demi penyelamatan lingkungan. Saat ini di Indonesia, pengolahan limbah industri agar menjadi lebih ramah lingkungan masih sangat kurang. Itu juga sebabnya kami selalu mendorong mahasiswa untuk berkreasi menghasilkan produk yang zero waste, jadi semua bisa bermanfaat” tutur Felycia yang menjadi dosen mata kuliahtechnopreneurship di Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (WM).
Berkat penelitian ini, Felycia yang juga alumnus jurusan teknik kimia WM angkatan tahun 1995, kembali memenangkanresearch grant International Foundation of Sciences (IFS) dari Swedia. “Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa, mengingat penerima IFS di Indonesia tidak banyak. Sejak berdiri pada tahun 1972 hingga sekarang penerima IFS di Indonesia tidak lebih dari 100 ilmuwan,” ujar Suryadi Ismadji, Dekan Fakultas Teknik WM peraih Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa 2012 oleh 4 Kementerian. (redaksi)

Jindrayani Nyoo Putro: Ke Jepang Berkat Kulit Kacang (sumber Web site Widya Mandala)



(WM, 26/10/2013) - Menipisnya bahan bakar fosil, meningkatnya harga minyak mentah dan masalah pemanasan global yang memprihatinkan menyebabkan perhatian dunia mengarah ke sumber energi terbarukan. Pada saat ini pemanfaatan biomassa lignoselulosa dapat memberikan jalur alternatif untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar dan produksi bahan-bahan kimia. Berdasarkan kesiapan bahan baku yang dipakai, bahan bakar dibedakan menjadi bahan bakar primer dan sekunder. Bahan bakar primer seperti kayu bakar dan lemak hewan digunakan secara langsung untuk pemanasan, memasak dan produksi listrik. Bahan bakar sekunder seperti biodiesel dan bioetanol terbagi menjadi tiga generasi, generasi pertama yang berasal dari bahan pangan sebagai bahan baku untuk produksi bahan bakar. Produksi bahan bakar generasi pertama ini mempunyai kerugian yaitu adanya batasan lingkungan dan ekonomi, karena seiring dengan meningkatnya produksi bahan bakar maka akan terjadi persaingan lahan yang digunakan antara produksi pangan dan kapasitas produksi bahan bakar. Persaingan ini menyebabkan situasi kekurangan bahan pangan yang parah, dimana lebih dari 800 juta jiwa di dunia sedang menderita masalah kelaparan dan gizi buruk. Berbeda dari generasi pertama, bahan bakar generasi kedua dihasilkan dari produk samping pertanian dan sisa-sisa dari perindustrian yang tidak bersaing dengan produksi bahan pangan. Yang terakhir adalah bahan bakar generasi ketiga yang berasal dari mikroalga, dimana perawatan mikroalga sendiri membutuhkan banyak biaya serta desain proses yang efektif untuk mendukung perkembangbiakan mikroalga. Generasi ketiga masih sangat sulit diterapkan di Indonesia. Hal tersebut melatarbelakangi Jindrayani Nyoo Putro, mahasiswi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya untuk membuat penelitian mengenai pemanfaatan kulit kacang sebagai sumber bahan baku baru untuk produksi intermediate Bahan Bakar Bio-Jet. “Insiprasi saya untuk melakukan penelitian lebih dalam tentang kulit kacang muncul ketika saya sedang makan gado – gado. Saya pikir akan sayang sekali kalau kacang yang menjadi bahan dasar bumbu makanan ini, kulitnya dibuang percuma,” ujarnya sambil terbahak. 
Dengan modal dasar pengetahuan bahwa lignoselulosa yang terkandung dalam kulit kacang menarik perhatian para peneliti didunia untuk dijadikan bahan dasar bio jet fuel, maka Jindra melakukan penelitian lanjutan tentang kulit kacang ini. “Lignoselulosa ini bersifat carbon neutral, bahan ini sama sekali tidak memberikan efek buruk terhadap lingkungan tetapi mampu mengatasi masalah efek gas rumah kaca. Sintesa Lignoselulosa hanya mengambil energi dari matahari, karbondioksida (CO2) dan air (H2O) dari lingkungan, bahkan melepas oksigen (O2) yang berguna untuk kehidupan mahkluk lainnya,” ungkap Jindra yang lebih suka menghabiskan waktu luangnya di laboratorium kampus untuk melakukan penelitian. Penelitian tentang kulit kacang ini berhasil membawa Jindra ke kancah Internasional. Jindra memenangi ajang Tokyo Tech Indonesian Commitment Awards 2013 (TICA) dalam bidang Applied Science and Engineering.  “Saya tidak memiliki ekspektasi untuk meraih kemenangan, karena kompetitor juga hebat – hebat. Namun, Puji Tuhan, saya bisa memenangi kompetisi TICA dan tanggal 6 - 11 November 2013 nanti saya berada di Jepang untuk mempresentasikan hasil penelitian ini,” pungkas anak sulung dari empat bersaudara ini.
Jindra menjelaskan bahwa sumber daya alam bisa dijadikan sebagai bahan baku yang berkelanjutan untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi, hal ini juga sekaligus mengurangi biaya bahan baku pembuatan bahan bakar dan ramah lingkungan. “Di Eropa dan Amerika, pemerintah mulai peduli pada sumber daya alam pengganti bahan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi, karena lama kelamaan akan habis. Saya melihat bahwa kulit kacang ini memiliki prospek yang baik sebagai sumber daya alam yang bisa digunakan di Indonesia karena jumlahnya berlimpah dan murah,” ucap mahasiswi semester 5 jurusan Teknik Kimia WM yang memiliki ambisi untuk mendapat beasiswa dan melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang doktoral dan berkarir dalam bidang riset dan pengembangan. “Jujur, saya sempat pesismis penelitian saya ini bisa menang, karena saya tahun lalu ikut TICA dan kalah, sama sekali tidak masuk nominasi. Pada saat itu, saya patah hati dan menangis. Rasanya bahkan lebih sakit  daripada habis diputus pacar. Saya tidak mau melakukan penelitian lagi selama 1 semester. Semester 5 ini saya kembali aktif untuk melakukan penelitian, karena memang keinginan saya untuk bekerja pada bidang riset dan pengembangan. Saya bisa jatuh, tapi saya harus bangkit lagi demi orang tua dan impian saya,” ujarnya dengan penuh semangat diakhir wawancara. (redaksi)

Mahasiswi Widya Mandala ciptakan sabun dari kecambah (antaranews.com)

urabaya (ANTARA News) - Empat mahasiswi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya menciptakan sabun cair dengan bahan baku dari kecambah.

"Produk kecantikan yang berupa sabun cair ini mengandung vitamin E yang baik bagi kulit," ujar mahasiswi Widya Mandala Merry Anggraini di Surabaya, Kamis.

Didampingi tiga rekannya, Rebeca Ervina Sanjaya, Ivonne Christalina, dan Anita Yuliviana, mahasiswa Teknik Kimia Widya Mandala angkatan 2010 itu menjelaskan kecambah selama ini hanya diolah sebagai makanan.

"Tanpa disadari, ada kandungan senyawa antioksidan yang memiliki banyak manfaat bagi tubuh, apalagi kecambah itu mudah dicari, mudah tumbuh, dan memiliki harga yang terjangkau," ujarnya.

Ia menjelaskan kecambah digolongkan sayur-sayuran yang paling praktis karena kecambah dapat dipanen hanya dalam waktu 3-5 hari, tumbuh sepanjang tahun dalam segala cuaca, bahkan tidak butuh sinar matahari.

"Manfaat kecambah sebagai sumber vitamin E yang berfungsi untuk menyehatkan, menghaluskan, mencegah penuaan dini, melindungi kulit akibat radiasi sinar ultraviolet," katanya.

Selain itu, kecambah juga berperan sebagai antioksidan yang melindungi sel dari serangan radikal bebas merupakan faktor utama yang melatarbelakangi pemilihan bahan kecambah ini.

"Vitamin E memang banyak digunakan kaum perempuan untuk merawat kecantikan kulit, bahkan mengonsumsi vitamin E dalam bentuk tablet atau kapsul lunak seolah menjadi rutinitas kaum hawa untuk menjaga kesegaran dan kecantikan kulit," katanya.

Melalui proses percobaan yang cukup rumit, keempat mahasiswi itu mencoba memasukkan ekstrak kecambah dan serpihan gandum ke dalam formula sabun cair.

"Proses kritis terjadi pada saat pencampuran ekstrak kecambah ke formula sabun cair ini agar tidak terjadi oksidasi yang dapat merusak khasiat maupun penampilan produknya," kata Ivonne.

Mengenai proses pembuatan sabun cair, Rebeca juga mengatakan bahwa campuran "oat flakes" (serpihan gandum) yang difungsikan sebagai scrub bermanfaat untuk membersihkan daki atau kotoran yang menempel di kulit.

Inovasi keempat mahasiswa WM itu tercatat dalam daftar 105 Inovasi Indonesia Prospektif 2013 yang diadakan oleh Business Innovation Center (BIC).

Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2014

Tuesday, 28 January 2014

6 Hibah penelitian DIKTI berhasil diperoleh dosen-dosen Jurusan Teknik Kimia Unika Widya Mandala Surabaya

Enam buah hibah penelitian DIKTI pembiayaan tahun 2014 berhasil diperoleh para dosen jurusan Teknik Kimia Unika Widya Mandala Surabaya.

  1. Wenny Irawati PhD dkk, judul: Karakterisasi senyawa bioaktif dalam limbah kulit jeruk purut (Citrus hystrix) sebagai sumber antioksidan alami untuk terapi diabetes militus (Desentralisasi: Hibah Bersaing).
  2. Dr. Suratno Laurentius dkk, judul: Analisis transfer massa pada pemurnian ethanol dalam memproduksi fuel grade ethanol secara adsorpsi menggunakan zeolit alam malang (Desentralisasi: Penelitian Fundamental).
  3. Yohanes Sudaryanto MT dkk, judul: Biogas dari limbah bulu ayam potong dengan mechanical-chemical-thermal treatment (Desentralisasi: Hibah Bersaing)
  4. Ery Susiani Retnoningtyas MT dkk, judul: Pembuatan tepung gadung menjadi bahan pangan tinggi protein dan aman dikonsumsi (Desentralisasi: Hibah Bersaing)
  5. Suryadi Ismadji, PhD dkk, judul: Modifikasi bentonite dan kaolin dengan menggunakan surfaktan alami dan surfaktan berbasis gula: Pengembangan mekanisme modifikasi, model adsorpsi multikomponen dan aplikasi untuk penyerapan limbah (Kompetisi Nasional: Penelitian Kompetensi).
  6. Herman Hindarso MT dkk, judul: Pembuatan biodiesel dari mikroalga menggunakan metode microwave dengan katalis heterogen (Desentralisasi: Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi).

Mahasiswa Teknik Kimia Unika Widya Mandala Surabaya berhasil mendapatkan 8 PKM-P DIKTI

8 Kelompok mahasiswa Teknik Kimia Unika Widya Mandala berhasil memperoleh PKM-Penelitian DIKTI untuk tahun 2014. Kelompok mahasiswa tersebut adalah:


  1. Jindrayani Nyoo Putro dkk, judul: Konversi ampas tebu menjadi bioavtur dengan teknologi hijau subkritis.
  2. Sarah yarden Palinggi dkk, judul: Jerami padi: dari limbah menjadi biogas
  3. Daniel Vincent Sandjaya dkk, judul: Teknik mikroenskapsulasi antioksidan alami dari limbah kulit kacang sebagai upaya peningkatan kualitas minyak kacang pada home industri.
  4. Boby Setia Gunawan dkk, judul: Potensi senyawa fenolik dari terung ungu sebagai antioksidan, anti bakteri, dan anti kanker alami pada handbody lotion.
  5. Jeanete Cindy Claudia dkk, judul: Teknologi anti mutagen (TAM) pada adsorpsi pengolahan limba pabrik antibiotik amoksisilin-ampicilin dengan kaolin termodifikasi
  6. Calvin Hardi Garchia dkk, judul: Peningkatan konversi jerami padi menjadi bioethanol melalui pretreatment dengan bantuan gelombang mikro dan gelombang ultrasonik.
  7. Antonius Fredy Kurniawan dkk, judul: Pemanfaatan enceng gondok sebagai media penyimpan energi.
  8. Soegiarto Adi Soenjaya dkk, judul: Pembuatan serat karbon sebagai bahan pembuatan advanced material.
Selamat atas prestasi yang dicapai !


Tuesday, 14 January 2014

Publikasi Teknik Kimia Unika Widya Mandala di Chemical Engineering Journal

Satu paper lagi berhasil dipublikasikan di Chemical Engineering Journal (volume 241 tahun 2014, halaman 9-18). Judul artikel adalah

Investigation on the montmorillonite adsorption of biocidal compounds incorporating thermodynamical-based multicomponent adsorption isotherm

Publikasi Teknik Kimia Unika Widya Mandala Surabaya di Fuel

Publikasi terbaru Teknik Kimia Unika Widya Mandala di Fuel 120 (2014) 48-52 dengan judul:

Biodiesel production under subcritical solvent condition using subcritical water treated whole jatropha curcas seed kernels and possible use of hydrolysates to grow Yarrowia lipolytica